KULINER, TUBUH, DAN IDENTITAS: SEBUAH PEMBACAAN GASTRO-SEMIOTIKA TERHADAP SEPILIHAN PUISI KARYA HANNA FRANSISCA/CULINARY, BODY, AND IDENTITY: A SEMIOTIC-GASTROCRITICAL READING TO HANNA FRANSISCA’S SELECTED POEM

Ahmad Zamzuri

Abstract


Abstrak

Makanan pada era kiwari tidak lagi sekadar hidangan, tetapi menjadi perantara munculnya beragam tafsir. Hanna Fransisca menjadi salah seorang penyair yang memanfaatkan khazanah kuliner dalam puisi. Artikel ini mengulas tiga puisi pilihan karya Hanna Fransisca, yaitu “Bakpao Tionghoa”, “Kambing Guling”, dan “Tumis Paru”. Penelitian ini menyoal kuliner dalam puisi yang dibaca melalui perspektif gastrokritik dengan menggunakan metode semiotika Rolland Barthes. Penelitian ini berusaha mengungkap makna kuliner dalam ketiga puisi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kuliner dalam puisi “Bakpao Tionghoa”, “Kambing Guling”, dan “Tumis Paru” menyoal tubuh. Bakpao dan kambing guling menjadi medium penarasian tubuh yang tidak memiliki otoritas gerak di ruang sosial. Tubuh disepadankan bakpao yang cenderung diposisikan sebagai objek konsumtif.  Tubuh dalam “Kambing Guling” hadir sebagai tubuh dalam ruang teritori yang cenderung mengekang kebebasan sebagai subjek. “Tumis Paru” menjadi medium penarasian tubuh yang telah terbebas dari penjara badani. Dalam hal identitas, ketiga puisi menarasikan identitas Tionghoa yang identik berkulit cerah dan berada pada ruang-ruang stereotip. Kuliner dalam ketiga puisi tersebut menjadi medium kritik, upaya protes, dan sindiran terhadap praktik-praktik warisan kolonial yang membedakan status dan identitas.

 

Kata kunci: identitas, kuliner, tubuh, Tionghoa, gastrokritik, semiotik

 

Abstract

Food in the recent era is no longer just a dish, but an intermediary for various interpretations. One of the poets who have used culinary treasures in the world of poetry is Hanna Fransisca. This article reviews selected poems by Hanna Fransisca entitled "Bakpao Tionghoa", "Kambing Guling", and "Tumis Paru". This research examines culinary in poetry through a gastro-critical perspective using the semiotic method of Rolland Barthes. This research attempts to reveal the culinary meaning in the three poems. The results showed that the culinary in the poetry "Bakpao Tionghoa", "Kambing Guling", and "Tumis Paru" shows body problems. Bakpao and Kambing guling become a medium for body narration which does not have the authority in social space. The body, through bakpao, is to be positioned as a consumptive object. Meanwhile, the body in “Kambing Guling” is present as a body in territorial space which tends to restrain freedom as a subject. “Tumis Paru” becomes a medium for narrating the body that has been freed from physical prison. In terms of identity, the three poems narrate a Chinese identity that is identical with bright skin and exists in stereotypical spaces. The culinary in the three poems is a medium of criticism, protest, and satire against colonial heritage practices that differentiate status and identity.

 

Keywords: identity, culinary, body, Tionghoa, gastrocritics, semiotics


Keywords


identitas; kuliner; tubuh; Tionghoa; gastrokitik; semiotik; identity; culinary; body; Tionghoa; gastrocritics; semiotics

Full Text:

PDF

References


Annisa, T.I. (2017). Dewa Dapur Dalam Perspektif Umat Tridharma di Indonesia (Studi Kasus di Klenteng Hok Lay Kiong Bekasi). UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Barthes, R. (1999). Toward a Psychosociology of Contemporary Food Consumption. In C. and P. van E. Counihan (Ed.), Food and Culture (1st ed., pp. 23–30). New York: Routledge.

Bramantio. (2013). Sastra dan Kuliner: Evolusi Gastronomi ke Gastrosofi Dalam Tiga Cerpen Indonesia. Jentera: Jurnal Kajian Sastra, 2(1), 42–55. https://doi.org/10.26499/jentera.v2i1.391

Budiyanto, A. & Latifah. (2018). Ambiguitas Aruna dan Paradoks Citarasa Lidahnya Poskolonialitas Novel Kuliner Laksmi Pamuntjak. Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 2(2), 221–234. https://doi.org/10.17509/bs

Fransisca, H. (2010). Konde Penyair Han. (S. Srengenge, Ed.). Depok: KataKita.

Fransisca, H. (2012). Benih Kayu Dewa Dapur. Jakarta: PT. Komodo Books.

Izzati, M.N. (2014). Peran Dewa Dapur Dalam Kehidupan Kaum Tionghoa di Indonesia. Universitas Indonesia, Jakarta.

Kiptiyah, B.M. (2018). Gastro Kritik: Kajian Sastra Berwawasan Kuliner Sebagai Wahana Pengenalan dan Pelestarian Kuliner Nusantara. Kongres Bahasa Indonesia. Jakarta. Retrieved from http://kbi.kemdikbud.go.id/kbi_back/file/dokumen_makalah/dokumen_makalah_1540518693.pdf

Klitzing, A. (2018). Pineapple Poetry - Studying Literature through a Food Studies Lens. Graduate Journal of Food Studies, 5(2), 1--3.

Klitzing, A. (2019). My Palate Hung With Starlight–A Gastrocritical Reading of Seamus Heaney’s Poetry. East-Est Cultural Passage, 19(2), 14–39. https://doi.org/https://doi.org/10.2478/ewcp-2019-0010

Pamungkas, E.A. (2014). Membedah Kaki Lima Nirwan (Membongkar Ideologi Nirwan Dewanto. Dalam Buli-Buli Lima Kaki). In D. Andarnuswari (Ed.), Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi: Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013 (I, pp. 29--60). Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

Rahariyoso, D. (2014). Paradoks Ruang Tubuh Dalam Puisi “Sakramen” Karya Joko Pinurbo: Kajian ‘Pascakolonial Tubuh’ Sara Upstone. Jurnal Poetika, II(1), 43–54. https://doi.org/https://doi.org/10.22146/poetika.v2i1.10413

Scarpato, R. (2002). Gastronomy as a Tourist Product: the Perspective of Gastronomy Studies. In Tourism and Gastronomy (pp. 51–70). London: Routledge.

Sulaiman, D. (2014). Narasi Kuliner dan Problem Identitas: Membaca Konde Penyair Han. In D. Andarnuswari (Ed.), Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi: Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013 (I, pp. 147--167). Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

Tigner, A.L. & Allison Carruth. (2018). Literature and Food Studies. London: Routledge.

Upstone, S. (2009). Spatial Politics in the Postcolonial Novel. England: Ashgate Publishing.




DOI: https://doi.org/10.29255/aksara.v33i1.721.1-10

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Aksara

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

_______________________________________________________________________________________________________

Aksara INDEXED IN:

  
     
   

_______________________________________________________________________________________________________

AKSARA is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License

@2016 Balai Bahasa Provinsi Bali Jalan Trengguli I No. 34, Tembau, Denpasar 80238 Telepon (0361)461714, Faksimile (0361)463656, Pos-el: jurnalaksara@yahoo.co.id, Laman: http://balaibahasaprovinsibali.kemdikbud.go.id/