TEMBANG SANDUR BOJONEGORO: KEKERASAN BUDAYA DAN ARKEOLOGI-GENEALOGI PENGETAHUAN/ TEMBANG SANDUR BOJONEGORO: CULTURAL VIOLENCE AND ARCHEOLOGY-GENEALOGY OF KNOWLEDGE

Mashuri Mashuri

Abstract


Abstrak

Penelitian sandur, kesenian rakyat berupa drama tari di Desa Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro sudah banyak, tetapi yang membicarakan tentang kekerasan budaya dan tembang sandur dalam kerangka arkeologi dan genealogi pengetahuan belum ditemukan. Hal itu karena kekerasan budaya menimpa seni tersebut karena imbas stigmatisasi sepihak pascatahun 1965—1966 yang menganggap sebagai kesenian rakyat yang berafiliasi ke PKI, dan pada masa puritanisme Islam menguat pada tahun 1990-an yang menganggap sandur tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, padahal isi tembang-tembang sandur kontradiksi dengan stigma tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini menguak aspek kekerasan budaya dengan menelusuri tembang sandur dari perspektif genealogi dan arkeologi pengetahuan dalam bingkai cultural studies. Teori yang digunakan adalah triangulasi teori, yaitu folklor, arkeo-genealogi pengetahuan, dan kesejarahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) tembang-tembang sandur memiliki metrum puitika Jawa yang mengarah pada nyanyian anak-anak, dengan media bahasa Jawa lokal, dan menyimpan jejak kearifan lokal, etika, dan spiritual, (2) nilai-nilai Islam-Jawa menjadi ruh tembang-tembang sandur. Di dalamnya terdapat sinkretisme nilai-nilai Jawa dan Islam, (3) stigmatisasi sepihak pada Sandur Bojonegoro, baik oleh kalangan anti-komunis maupun puritanisme Islam, hanya melihat pada konteks kesejarahan Indonesia pada Orde Lama ketika politik menjadi panglima dan hanya melihat penampang permukaan semata tanpa mendalami unsur-unsur pembentuknya, ideologi, ajaran luhur, dan tradisi yang melahirkan seni sandur.   

 

Kata kunci:Sandur Bojonegoro, kekerasan budaya, arkeologi, genealogi pengetahuan 

 

Abstract

There are many researches on sandur, folk art in the form of dance dramas in Ledok Kulon Village, Bojonegoro District, Bojonegoro Regency, but those that talk about cultural violence and tembang sandurin the archaeological framework and genealogy of knowledge have not been found. This is because cultural violence befell the art because of the impact of unilateral stigmatization after 1965-1966 which considered it a folk art affiliated to the PKI, and during the period of strong Islamic puritanism in the 1990s, which considered sandur not in accordance with Islamic values, even though the contents tembang sandurcontradict this stigma. Therefore, this study uncovers aspects of cultural violence by tracing tembang sandurfrom the perspective of genealogy and knowledge archeology within the framework of cultural studies. The theory used is triangulation of folklore theory, archeology-genealogy of knowledge, and history. As a result, (1) the sandursongs have a Javanese poetic metre that leads to children's singing, with local Javanese language media, and keeps traces of local wisdom, ethics, and spirituality, (2) Javanese-Islamic values become the spirit of the tembang sandur. In it there is a syncretism of Javanese and Islamic values, (3) the unilateral stigmatization of SandurBojonegoro, both by anti-communists and Islamic puritans, only looks at the historical context of Indonesia in the Orde Lamawhen politics was the commander and only sees the surface without explore its constituent elements, ideology, noble teachings, and traditions that gave birth to the art of sandur.

 

Keywords:SandurBojonegoro, cultural violence, archeology, genealogy of knowledge


Keywords


Sandur Bojonegoro; kekerasan budaya; arkeologi; genealogi pengetahuan

Full Text:

PDF

References


DAFTAR PUSTAKA

Barker, C. (2014). Kamus Kajian Budaya. Yogyakarta: Kanisius.

Bing, A. (2003). Mbah Sukadi: sandur, seni yang terkubur. Dalam Gong 45, 16—17.

Chisaan, C. (2008). Lesbumi; Strategi Politik Kebudayaan. LKiS: Yogyakarta.

Danandjaya, J. (1984). Folklor Indonesia; Ilmu Gosip, Dongeng dan Lain-lain. Grafiti: Jakarta.

Dharmamulya, S. (2008). Permainan Tradisional Jawa. Kepel Press: Yogyakarta.

Dewi, A.K. (2011). Musik Sandur Desa Ledok Kulon Kabupaten Bojonegoro (Tinjauan Etnomusikologis). Tidak diterbitkan. Skripsi S-1 Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya.

Faruk. (2008). Pascastrukturalisme; Teori, Implikasi Metodologi, dan Contoh Analisis. Jakarta: Pusat Bahasa.

Finnegan, R. (1977). Oral Poetry; Its Nature, Significance and Social Context. Cambridge University Press: London

Foucault, M. (2009). Pengetahuan dan Metode, Karya-karya Penting Foucault. Yogyakarta: Jalasutra

Fuadah, E.N. (2010). Peranan kesenian sandur sebagai pelestarian nilai-nilai kearifan kokal di Desa Ledok Kulon Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro”. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 1(1).

Harjo, K. (1996) Samin Surosentiko. Manuskrip. Tidak diterbitkan.

Herlambang, W. (2015). Kekerasan Budaya Pasca 1965. Jakarta: Marjin Kiri.

Herusatoto, B. (2008). Simbolisme Jawa. Yogyakarta: Ombak.

Hidajad, A. (1998). Kehidupan Teater Rakyat Sandur Desa Ledok Kulon Bojonegoro (Sebuah Tinjauan Sosiologis Teater). Tidak diterbitkan. Skripsi S-1 Seni Teater ISI Yogyakarta.

Hidajad, A. (2011). Sandur, Antara Tuntunan dan Tontonan. Tidak diterbitkan. Tesis S-2 Pendidikan Seni Unnes Semarang. Tidak diterbitkan.

Ismail, Y. (1972). Pertumbuhan, Perkembangan dan Kejatuhan Lekra di Indonesia. Kualalumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.Kadarisman, A. E. (2008). Sketsa puitika Jawa: dari rima anak-anak sampai filsafat rasa”, dalam Prudentia, M. P. S. S. (Ed). Metodologi Tradisi Lisan. Asosiasi Tradisi Lisan: Jakarta.

Kasdi, A. (2001). Kaum Merah Menjarah, Aksi Sepihak PKI/BTI di Jawa Timur 1960—1965. Yogyakarta: Jendela.

Kuntowijoyo. (1994). Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana dan Jurusan Sejarah UGM Yogyakarta.

Geertz, C. (1983). Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.

Mohamad, G. (1993). Kesusastraan dan Kekuasaan. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Nina, H.L. (2003). Historiografi Barat. Bandung: Satya Historika.

Panitia Penggali dan Penyusun Hari-Jadi Kabupaten Daerah Tingkat II Bojonegoro. (1988). Sejarah Kabupaten Bojonegoro (Menyingkap Kehidupan dari Masa ke Masa. Bojonegoro: Pemerintah Daerah Tingkat II Bojonegoro.

Pranowo, B.M. (2009). Memahami Islam Jawa. Jakarta: Alvabet.

Prudentia, M.P.S.S. (2008). Metodologi Tradisi Lisan. Asosiasi Tradisi Lisan: Jakarta.

Rosiyana, E. (2015). Dinamika Seni Pertunjukan Sandur Kembang Desa di Desa Ledok Kulon Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro (1950-2013) serta Nilai Pendidikan Karakternya. Tidak diterbutkan. Skripsi S-1 Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang.

Santosa, I.B. (2012). Spiritualisme Jawa; Sejarah, Laku, dan Inti Ajaran. Yogyakarta: Memayu Publishing.

Santoso, J. (2000). Iringan Pertunjukan Sandur Desa Ledok Kulon Bojonegoro Jawa Timur; Satu Tinjauan Aspek Penyajian. Tidak diterbitkan. Skripsi S-1 ISI Yogyakarta.

Sarwono, E. (1995). Tuntunan Tembang Jawa. Anugerah: Yogyakarta.

Sighro, A.B. (2016). Sandur, kearifan budaya lokal yang harus dikawal dan dijaga. Dalam SuaraBojonegoro.Com, diunggah Sabtu, 26 Maret 2016, diunduh 10 Januari 2017.

Sighro, A.B. (2016a). Karakteristik dalam pertunjukkan seni sandur. Tidak diterbitkan. Makalah Revitalisasi Seni Sandur oleh Badan Bahasa di Bojonegoro, 2016.

Sulistyo, H. (2000). Palu Arit di Ladang Tebu, Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan (1965—1966). Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia.

Supriyanto, H. (2012). Postkolonial pada Lakon Ludruk Jawa Timur. Malang: Bayumedia.

Taum, Y. Y. (2015). Sastra dan Politik, Representasi Tragedi 1965 dalam Negara Orde Baru. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

Tempo.Com. (2016). Dilarang zaman Orba, sandur kini bebas tampil di Bojonegoro. Dalam Tempo.Com. Diunggah Senin, 23 Mei 2016, pukul 13:35 WIB. Diunduh 10 Januari 2017.

Wibono, J.C., Susilowati, T.T. & As’ad, M.A. (2009). Membaca Sandur Bojonegoro dan Sandur Tuban. Jurnal Resital, 10 (2), 112—122.

Wicaksono, A.C. (2015). Perubahan Struktur Dramatik Pertunjukan Sandur Kabupaten Bojonegoro di era posmodern. Dalam andrewitjaksono. blogspot.co.id diunggah 23 Juni 2015. Diunduh 9 Januari 2017.

Winarti. (2005). Makna Simbolis Pertunjukkan Sandur Desa Ledok Kulon Kecamatan Bojonegoro Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Tidak diterbitkan. Skripsi S-1 Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukkan, ISI Yogyakarta.

Woodward, M.R. (1999). Islam Jawa, Kesalehan Normatif versus Kebatinan. Yogyakarta: LKiS.

Yuliantri, R.D.A. & Dahlan, M.M. (2008). Lekra Tak Membakar Buku, Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950—1965. Yogyakarta: Merakesumba.

Sumber Media:

Harian Rakjat

Gong

Tempo.Com

Blog Bojonegoro

Beritajatim.com

Narasumber:

Jagat Pramudito (60 tahun)

Winarti (39 tahun)

Agus Sighro (45 tahun)

Muhammad Faishal Aminudin (38 tahun)




DOI: https://doi.org/10.29255/aksara.v33i2.710.169-186

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2022 Aksara

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

_______________________________________________________________________________________________________

Aksara INDEXED IN:

   
     
   

_______________________________________________________________________________________________________

AKSARA is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License

@2016 Balai Bahasa Provinsi Bali Jalan Trengguli I No. 34, Tembau, Denpasar 80238 Telepon (0361)461714, Faksimile (0361)463656, Pos-el: jurnalaksara@yahoo.co.id, Laman: http://balaibahasaprovinsibali.kemdikbud.go.id/