VERBA "MEMASAK" DALAM BAHASA BALI: KAJIAN METABAHASA SEMANTIK ALAMI (MSA)

Sang Ayu Putu Eny Parwati

Abstract


Abstrak

Bahasa merupakan sumber daya yang mampu mengungkap sebuah misteri budaya dan budaya hanya dapat diungkapan dengan bahasa. Bahasa dan budaya Bali adalah sebuah cermin jatidiri penuturnya. Bahasa dan budaya ‘memasak’ dalam masyarakat Bali memiliki makna tersendiri yang dapat diungkapkan melalui kajian Metabahasa Semantik Alami (MSA), seperti pada verba ngengseb, ngnyatnyat, dan nambus.  Teori MSA ini dirancang untuk mengeksplikasi semua makna, baik makna leksikal, makna ilokusi, maupun makna gramatikal. Verba ‘memasak’ dalam bahasa Bali termasuk dalam kategori verba tindakan (perbuatan) dan verba proses. Dalam verba tersebut terjadi polisemi takkomposisi antara MELAKUKAN dan TERJADI sehingga pengalam memiliki eksponen: “X melakukan sesuatu pada Y, dan karena itu sesuatu terjadi pada Y”. Dengan metode simak libat cakap dan teknik catat, diperoleh sebanyak 12 leksikon data yang terkumpul, selanjutnya dieksplikasikan untuk merepresentasikan makna aslinya. Berdasarkan metode, sarana, dan entitas yang digunakan dalam ‘memasak’, lesksikon verba ini terbagi dalam tiga kelompok, yaitu (1) ‘memasak’ dengan sarana air: nyakan, nepeng, ngukus, ngengseb, nglablab, ngnyatnyat (2) ‘memasak’ dengan sarana api: nunu, manggang, nambus, dan nguling, (3) ‘memasak’ dengan sarana minyak dan tanpa minyak: ngoreng dan ngenyahnyah. Semua leksikon yang memiliki makna memasak di atas berpola sintaksis MSA: X melakukan sesuatu pada Y dan Y masak/matang (termasak).

 


Keywords


verba; MSA; metode; entitas

Full Text:

PDF

References


Arnawa, Ketut. 2005. “Bahasa Bali Usia Anak-Anak: Kajian Metabahasa Semantik Alami”. Disertasi. Program Doktor, Linguistik, Universitas Udayana.

Goddard, Cliff 1996a. ‘Semantic theory and Semantic Universal’. Dalam Cliff Goddard (conventor), Cross – Linguistic Syntax from a Semantic Point of View (NSM Approach), 1 – 5. Australia: Australia National University.

Goddard, Cliff. 1994. “Semantic Theory and Semantic Universal”, Goddard (Convenor) 1996. Cross-Linguistic System from a Semantic Point of View (NSM Approach), 1—5, Australia: Australian National University.

Kesuma, Tri Mastoyo Jati. 2010. “Verba Transitif dan Objek dapat Lesap dalam Bahasa Indonesia”. Linguistik Indonesia, Jurnal Ilmiah MLI. Jakarta: Unika Atmajaya.

Mahsun, M.S. 2007. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Parwati, Sang Ayu P, Eny. 2015. “Struktur Semantis Verba ‘Makan’ dalam Bahasa Bali” Kolita 13. Universitas Atmajaya Jakarta.

Saville-Troike, Muriel. 2006. Introducing Second Language Acquisition.Cambridge University Press.

Sudaryanto, 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogya: Duta Wacan University Press.

Sudipa, I Nengah. 2012. “Makna ‘Mengikat’ Bahasa Bali: Pendekatan Metabahas Semantik Alami”. Jurnal Kajian Bali, Volume 02, Nomor 02. Denpasar: Universitas Udayana.

Wierzbicka, Anna. 1996. Semantic: Primes and Universal. Oxford: Oxford University Press.

Tim Penyusun. 1996. Tata Bahasa Baku Bahasa Bali. Denpasar: Pemerintah Provinsi Daerah Tingkat I Bali.




DOI: http://dx.doi.org/10.29255/aksara.v30i1.73.121-132

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Aksara

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

_______________________________________________________________________________________________________

AKSARA INDEXED IN:

 
   

 

_______________________________________________________________________________________________________
 

AKSARA is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License

@2016 Balai Bahasa Provinsi Bali Jalan Trengguli I No. 34, Tembau, Denpasar 80238 Telepon (0361)461714, Faksimile (0361)463656 Pos-el: jurnalaksara@yahoo.co.id Laman: www.balaibahasaprovinsibali.com